Virtual Reality < New Begining, Episode 7>
Aku membuka dengan berat kedua mataku, berusaha menggerakkan badanku
tetapi tidak dapat di gerakkan, samar-samar terdengar beberapa orang
sedang berbincang di dekatku sekarang ini setelah itu suara menjadi
sunyi hanya terdengar beberapa suara langkah kaki yang mulai menjauh
dari tempatku sekarang, aku mencoba membuka mulutku meski berat di
rasakan
“aku dimana”
“oh kamu sudah bangun ternyata”
“. . .”
‘bangun? Ah iya benar tadi ada sebuah senjata seperti pistol yang
ujungnya berada di leherku, dan terasa sebuah benda dengan ujung seperti
jarum menembus kulit leherku dan membuatku kehilangan kesadaran’
“sepertinya kamu masih bingung ya”
“. . .”
“bisakah aku memanggilmu dengan sebutan black hat saja? Agar terasa familiar”
Mendengar perkataan orang itu aku sedikit kaget, karena tidak banyak
yang tau nama inisialku di dunia itu, aku mencoba menggerakkan kepalaku
ke arah orang yang berbicara kepadaku tetapi pandanganku masih sedikit
kabur di tambah pencahayaan ruangan ini yang kurang cahaya
“aku dimana? Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”
Aku bertanya-tanya sambil menggerakkan tubuhku yang terikat di kursi
dan kedua tanganku yang sedang di borgol terlihat di depanku
“tenang black hat atau fiko kita sekarang masih berada di aula sekolahanmu”
“kami adalah team dari cyber police dan sepertinya kamu sudah tahu
apa tujuan kami berada di sini kan apabila mendengar kami dari mana”
Kembali kata-kata orang ini mengagetkanku membuat kepalaku langsung
tertunduk lemas ‘berarti sudah ketahuan ternyata, sial gimana sekarang’ ,
aku mencoba mengangkat kepalaku untuk mencoba melihat wajah orang
karena pandanganku sudah sedikit jelas. Wajahnya masih muda seperti anak
kuliahan dan lebih tinggi dariku sekarang rambutnya lurus di sisir ke
samping berwarna kecoklat-coklatan . Dia menggunakan kaca mata hitam
ditengah ruangan yang kurang pencahayaanya seperti ini
Melihat sekelilingku ternyata memang benar aku masih berada di
ruangan aula tetapi teman-temanku yang tadi di atas panggung sudah
hilang tinggal aku sendirian di sini, posisi kursiku skrg berada di
pinggir panggung jika di dorong sedikit maka aku bisa jatuh ke lantai d
bawah, setelah melihat posisiku yang kurang menguntungkan aku mencoba
kembali melihat sekelilingku, di pintu samping panggung yang menuju
bagian belakang panggung terlihat seseorang dengan rambut yang panjang
cuman wajah dan sebagian tubuhnya tidak terlihat karena kurangnya cahaya
yang terlihat hanya rambutnya yang panjang dan sedang duduk di kursi,
aku memalingkan wajahku dari tempat itu dan kembali melihat orang di
depanku
“dimana teman-temanku sekarang? Kenapa kalian susah-susah menangkapku di sekolah, apa mau kalian sebenarnya?”
Orang itu mendengar pertanyaanku lalu berjalan menjauh mengambil
sebuah kursi lipat dan kembali ke depanku, dia membuka kursi lipat itu
dan di dudukinya
“temanmu? Apa benar mereka temanmu? Kalau dia temanmu seharusnya dia memberitahukan bahwa kamu sedang kami incar”
Orang itu tersenyum setelah mengatakanya lalu mengambil bungkus rokok
dan mengeluarkan 1 batang rokok dari bungkusnya dengan di gigit lalu
menyalakan rokok untuk membakar ujung rokoknya, aku yang mendengar
kata-kata orang itu mengatakan sesuatu yang tidak dia tahu soal temanku
membuat emosiku langsung naik
“kau orang bodoh, jangan pernah menghina teman-temanku seenakmu saja”
“hahahahahaha tenanglah sedikit black hat, mereka sekarang dalam
perjalanan ke kantor kami, sedangkan kita sedang menunggu kendaraan
untuk menjemput kita jadi selama itu mari kita berbincang-bincang
sebentar, tentunya dengan santai”
“kamu belum menjawab pertanyaanku”
“ah soal kenapa menangkapmu? Bukannya memang itu sudah tugas kami
untuk menangkap orang-orang yang mengganggu ketertiban dan keamananan di
dunia maya?”
“jadi siapa orang yang memberitahumu identitas kami?”
Ketika aku menanyakan hal tersebut ekspresi orang itu yang awalnya
dengan santai menghisap rokoknya langsung menjatuhkan rokoknya dan
menginjaknya serta ekspresi wajahnya berubah sedikit tegang, dia
memajukan kursinya semakin dekat di depanku
“soal itu bukankah sudah jelas kami memiliki semua informasi terbaru
dari pada informan kami, apa lagi hanya menangkap kelompok kecil
sepertimu itu bukanlah pekerjaaan yang susah”
“jadi tanpa bantuan informan itu kalian bahkan sebenarnya tidak bisa
menemukan kami ya?hahahahahha sungguh menyedihkan sekali, pemerintah
membayar orang seperti kalian menjaga dunia maya tetapi hanya untuk
menangkap kami kalian harus susah payah, berapa lama informan itu
bekerja untuk kalian? Bahkan kami sudah lama tidak bisa kalian tangkap”
“. . .”
Mendengar kata-kata provokasiku sepertinya membuat orang itu langsung
bangkit dari duduknya lalu menyentuh kursiku dan di dorongnya
kebelakang membentuk posisi 45 derajat seakan-akan dia akan membuangku
dari atas panggung itu ke lantai di bawah, aku sedikit kaget dengan
respondnya yang berubah derastis ketika memakan umpanku dengan
mentah-mentah tetapi cara melakukanya sekarang benar-benar membuatku
berada di posisi yang berbahaya. Jika saja dia melepaskan tangannya
secara otomatis aku akan jatuh dari panggung setinggi 2 ½ M
“makanya aku benci apabila berurusan dengan bocah seperti kalian, kalian pikir kalian siapa?”
“kami siapa? Pertanyaan yang bodoh sudah jelas-jelas kami adalah hacker”
“bodoh katamu? Kamu mau merasakan jatuh dari ketinggian ini dengan kepala berada di bawah?”
Mendengar perkataanya aku sedikit takut, tiba-tiba suara semacam nada
panggil terdengar dari sakut orang itu, dia menarik kembali kursiku dan
di kembalikan di posisi semula dan menjauh dari tempatku berada,
terlihat dari tempatku dia mengambil benda berbentuk persegi panjang
berwarna putih dari sakunya dengan layar yang menutupi seluruh bagian
depan benda itu dan menempelkanya di telinganya, ternyata itu adalah
panggilan telepon dia berbicara sambil tangan kirinya menutupi mulutnya
seakan-akan agar membuatku tidak dapat membaca gerak bibirnya
‘sebuah handphone?ah bukan itu seperti smartphone yang dulu sempat di pakai banyak orang tahun sekitar tahun 2012’
“di jaman seperti ini masih saja ada orang yang menggunakan smartphone”
Aku mengatakan hal tersebut sambil melihat ke arah pintu yang menuju
belakang panggung tetapi orang yang duduk di sekitar tempat itu sekarang
sudah tidak ada yang tersisa hanya sebuah kursi lipat yang berada di
tempat orang itu berada tadi, aku kembali melihat ke arah orang yang
tadi sedang menginterogasiku, dia sudah menutup telponya dan kembali ke
tempatku
“kendaraan yang akan menjemput kita akan tiba sebentar lagi, sebaiknya kita bersiap-siap”
Dia membuka ikatan di badanku lalu menyuruhku berdiri dari kursi dan
di suruhnya aku berjalan keluar aula di ikutinya dari belakang, di depan
aula sekolah tampak sepi sekali hari ini aku melihat ke atas awan pun
tetap gelap dan gerimis semakin mendukung keadaanku sekarang ini. Aku di
suruhnya berjalan menuju halaman sekolah, selama perjalanan dari aula
menuju halaman sekolah kami melewat banyak kelas, semua siswa dan guru
yang berada di dalam ruangan ketika melihat kami berjalan langsung
melihati dari dalam jendela kelas, pandangan mereka seakan-akan
menghinaku dengan keadaan seperti sekarang bahkan terdengar sayup-sayup
suara mereka menertawakanku. Orang itu masih di belakangku berjalan
sambil bermain dengan smarthphonenya
Setelah melewati gerbang utama dari wilayah dalam sekolah menuju
halaman depan sekolah yang melewati sebuah lorong penuh iklan pengumuman
di temboknya aku menghentikan langkahku, membuat orang itu yang sedari
tadi sibuk bermain dengan smarthphonenya menabrakku dari belakang, dia
sedikit kaget melihatku berhenti mendadak
“hei kenapa berhenti”
Aku diam mendengar pertanyaanya, dia lalu memegang pundak kananku sambil sedikit mendorongku ke depan
“ayo jalan lagi”
Aku berjalan beberapa langkah dengan lambat membuat orang di
belakangku sedikit jengkel melihat ulahku, dia langsung berjalan dan
sekarang berada di depanku sambil melihatku
“kenapa kamu?”
Aku menundukkan kepala lalu aku membuat tubuhku seakan-akan tidak
seimbang dan pura-pura terjatuh, terlihat sekilas dia memajukan kedua
tanganya hendak menangkap badanku yang terjatuh ke arahnya berdiri,
tepat ketika dia akan memegangku aku menghentakkan kedua kaki sehingga
membuat sedikit dorongan dan menghantam tubuhnya sampai terjatuh di
lantai, aku pun juga ikutan terjatuh di lantai tetapi aku langsung
bangkit dan mencoba untuk kabur. Aku berlari dengan sekuat tenaga
danakhirnya berada di ujung lorong dan melihat halaman sekolah yang
sedang di guyur hujan dengan derasnya, aku akan berlari lagi tetapi
terdengar sebuah suara letusan tembakan dari arah belakangku,aku yang
mencoba berlari tiba-tiba merasakan panas dan terasa sakit dipundak
kiriku, merasakan hal seperti itu membuat penglihatanku langsung gelap
aku sudah tidak dapat berfikir lagi apa yang terjadi
***
“huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. . . .”
“hah. . .hah. . . . hah. . .”
“apa yang terjadi”
Fiko terbangun di tempat tidur rumahnya, dia bingung melihat sekelilingnya meski itu merupakan kamarnya sendiri
“tadi aku di tembak”
Dia mencoba membuka kaosnya dan melihat apakah ada bekas luka atau
jahitan di pundak kirinya, tetapi yang terlihat hanya bekas luka lamanya
“mimpi kah tadi?”
Fiko masih terdiam di atas tempat tidurnya mencoba menenangkan
pikirannya, sinar matahari sedikit masuk ke dalam kamar dan menerpa
wajahnya, dia melihat ke arah jendela yang tirainya tidak tertutup
penuh, dia masih diam sambil melihat cuaca cerah pagi itu terasa
hangatnya sinar matahari di wajahnya memberikan sedikit rasa hangat.
Fiko mencoba memejamkan matanya untuk lebih merasakan hangat matahari
itu, setelah puas dia bangun dari tempat tidurnya kemudian metatanya
seperti semula, dia berjalan menuju pintu kamar sambil menguap lalu
membuka pintunya dan berjalan menuju lantai 1 dengan melewati tangga
Ketika berjalan di tangga rumahnya sebuah pesan masuk ke
Xnecklacenya, fiko menggerakkan tangannya untuk membuka pesan yang
ternyata dari wita
“hari ini ada perubahan jadwal mendadak, bawa pakaian olahragamu nanti jangan lupa”
Masih terdiam di tangga fiko melihat pesan itu lalu menutupnya
“ada-ada saja pagi-pagi begini”
Fiko berjalan langsung menuju meja makan dan melihat makanan yang berada di meja makan
“wah pagi-pagi begini ada nasi goreng”
Melihat salah satu makan kesukaanya dia langsung mengambil piring dan
di isi dengan nasi goreng serta mengambil sendok, dia berjalan menuju
ruangan keluarga yang berada di sebelah meja makan, fiko duduk lalu
menyalakan televisi di depannya, sambil makan dia melihat acara di tv
ternyata siaran yang di lihatnya adalah siaran berita nasional yang
memperlihatkan penangkapan seorang pelaku kejahatan di dunia maya,
terlihat penangkapan yang terjadi di sebuah internet cafe yang di lihat
banyak orang dari kejauhan. Beberapa orang yang menangkap pelaku itu
menggunakan pakaian jas berwarna hitam, tiba-tiba mata fiko terfokus
melihat pada seseorang yang berada sedikit di belakang pelaku yang di
tangkap
“itu kan . . .”
Fiko yang sedikit sadar akan sesuatu langsung menaruh piringnya di
kursi dan maju mendekat ke layar televisi sebesar 32 inch tersebut
“sepertinya orang itu sama dengan orang yang berada dalam mimpiku”
Dia terdiam melihat televisi yang jaraknya dekat sekali dengan
wajahnya, fiko lalu kembali ke kursinya dan mengambil piring yang masih
berisi nasi goreng dan membuangnya di tempat sampah, dia meletakkan
piringnya di cucian lalu berjalan menuju kamar mandi. Lumayan lama
menghabiskan waktunya di kamar mandi fiko lalu kembali ke kamarnya dan
menyiapkan oakaian olahraganya dan di masukkanya ke dalam tas, setelah
memakai seragam dan sepatu dia langsung turun dan menuju pintu depan
rumahnya. Dia menutup pintu dan mengkuncinya, dia berjalan menuju
terminal MRT yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya
Selama perjalanan fiko memikirkan tentang mimpinya dan wajah orang
yang terlihat di televisi tadi ‘apa yang terjadi sebenarnya, siapa orang
itu’, dia bertanya-tanya dalam hatinya bahkan selama berada di monorail
fiko hanya diam mencoba-coba mengingatnya, sedikit demi sedikit
penumpangnya semakin penuh sampai ada seseorang yang menyapa fiko tetapi
tidak di respond olehnya sama sekali
“hei fiko selamat pagi”
“. . .”
Orang yang menyapa fiko barusan lalu duduk di sebelahnya dan memukul bahunya sedikit
“ah”
Fiko menoleh ke arah orang itu dengan sedikit kaget
“selamat pagi”
Sapa seseorang yang ternyata adalah teman sekelasnya
“ow kamu wita, ya selamat pagi juga”
“dari tadi kamu di sapa diam aja kenapa?”
Mendengar pertanyaan wita fiko kembali teringat apa yang di pikirkannya tadi
“ah tidak ada apa-apa kok, by the way kenapa ada pelajaran olahraga mendadak hari ini?”
“entahlah aku juga kurang mengerti soal itu”
“hoo”
Setelah pembicaraan ringan barusan suasana menjadi hening kembali,
fiko memejamkan matanya sambil membayangkan apa yang sebenarnya terjadi
sedangkan wita sibuk melihat live streaming berita penangkapan penjahat
di dunia maya melalu Xnecklacenya, melihat berita itu membuat wita
melihat ke arah fiko yang masih memejamkan matanya. Perjalanan yang
memakan waktu 30 menit dari rumah fiko menuju sekolah akhirnya berakhir,
beberapa siswa yang menaiki monorail turun di terminal MRT itu meksi
beberapa siswa terlihat bukan dari sekolah yang sama dengan wita karena
di sekitar wilayah itu terdapat 2 SMA selain SMA Tunas Bangsa
Tampak kerumunan siwa sedang berjalan termasuk wita dan fiko tetapi
tidak ada 1 kata pun keluar dari mulut mereka berdua, dari belakang
terdengar suara panggilan memanggil nama wita
“wita tunggu”
Mendengar seseorang memanggilnya wita secara reflek berhenti berjalan
di ikuti fiko dan melihat ke arah asal suara itu, dia melambaikan
tangannya ke arah orang yang menyapanya. Ternyata itu adalah teman
sekelas wita dan tentu saja teman sekelas fiko, terlihat 2 orang
perempuan sedikit mengobrol bersama wita dengan suara pelan lalu melihat
ke arah fiko berdiri yang posisinya berdekatan dengan wita dan
teman-temanya
“eh wita kamu lihat berita penangkapan penjahat oleh cyber police td pagi?”
“ah iya menjijikkan ya orang seperti mereka, hanya demi uang mereka merusak kesenangan orang lain”
Teman-teman wita berkata sambil melihat ke arahku berdiri, wita
terlihat diam saja mendengar teman-temanya mengatakan hal seperti itu,
lalu wita mengajak teman-temanya untuk segera berjalan ke arah sekolah.
Kelompok wita berjalan meninggalkanku yang hanya berdiri terdiam, dari
jauh wita masih sempat melihat ke arah fiko berdiri tadi
***
‘Selama pelajaran pertama berlangsung aku tidak bisa berkonsentrasi,
ingin rasanya meminta maaf kepada fiko soal pembicaraan teman-temanku
tadi pagi tetapi’, sekarang jam 9:00 pagi kelas fiko dan wita
mendapatkan perubahan jadwal mendadak yang mengakibatkan mereka sekarang
berada di lapangan basket di depan kelas mereka. Semua murid sedang
memakai pakaian olahraga sekolah, hari itu kelompok murid laki-laki
bermain sepak bola di lapangan bola yang berada agak jauh dari lapangan
basket, sedangkan kelompok murid perempuan bermain basket. Selama
pelajaran olahraga berlangsung fiko hanya duduk di bawah pohon besar
yang terdapat di samping kelasnya, dia subuk membuka halaman demi
halaman web mencari sesuatu yang mengganjal dirinya sejak tadi pagi
Wita dari lapangan basket yang letaknya sedikit jauh hanya dapat
melihat fiko, akhirnya dia meminta ijin kepada guru untuk beristirahat
di pinggir lapangan, wita yang berada di pinggir lapangan menggerakkan
tangannya di udara menekan keyboard virtual di depannya lalu mengirim
pesan ke fiko. Sebuah pesan masuk ke Xnecklace fiko, dia menekan pesan
yang muncul di pengelihatannya dan sebuah window muncul di depannya
“maaf soal perkataan teman-temanku tadi pagi, mereka hanya bercanda kok jadi jangan di anggap serius ya :)”
Melihat pesan itu fiko terdiam sebentar lalu mencoba membalas pesan itu dan di kirimkanya kembali ke wita
“aku sudah biasa mengalami hal seperti itu jadi tidak perlu di pikirkan”
Setelah membaca pesan dari fiko, wita kembali melihat ke bawah pohon
tempat dimana fiko duduk tetapi dia sekarang sudah tidak ada di bawah
pohon tersebut. Fiko berjalan melewati taman yang berada di belakang
kelasnya setelah membalas pesan dari wita ‘buat apa kamu pikirin hal itu
tidak ada gunanya juga, aku sudah terbiasa mengalamai hinaan seperti
itu. Orang-orang seperti mereka yang tidak mengerti arti hidup
sebenarnya hanya mementingkan keuntungan untuk dirinya sendiri tampa
memikirkan perasaan orang lain’, selama berjalan fiko hanya berbicara
dalam hatinya. Sebuah pesan masuk lagi ke Xneckalcenya, dia hendak
membukanya tetapi sedikit keraguan di pikirannya apakah itu pesan dari
wita lagi, tetapi dia mencoba menghilangkan keraguannya dan menekan
tampilan pesan masuk, sebuah window menampilkan isi dari pesan tersebut
“jadi kapan kita akan memulai Pknya black?”
Virtual Reality < New Begining, Episode 7>
- Virtual Reality < New Begining, Episode 7>
- Unknown
- Jumat, 30 Agustus 2013
- Tidak ada komentar:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar